Minggu, 02 Februari 2014

Strategi Nyapres (Saya)

Mau atau tidak, manusia sesuai fitrahnya diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Entah itu sebagai pemimpin dirinya sendiri, menjadi kepala rumah tangga, ketua OSIS, ketua RT, atau bahkan menjadi seorang kepala negara. Kebetulan juga tahun ini (2014) bertepatan dengan akan digelarnya pemilihan presiden yang didahului oleh pemilihan legislator yang akan duduk di Dewan (yang katanya) Perwakilan Rakyat (entah rakyat dari golongan mana). Saya kadang berpikir kenapa sih presiden itu menjadi profesi yang menjadi rebutan? Apa semua yang uber - uber posisi presiden itu juga tau konsekuensi - konsekuensinya? Sudah siapkah menjadi bahan pembantaian partai - partai oposisi karena setiap kebijakannya dianggap tidak pro-rakyat? Atau presiden dipandang sebagai posisi yang tepat untuk membuat sejarah bangsa? Apapun motivasinya para calon - calon presiden ini, saya angkat topi buat mereka karena sudi memimpin negeri yang ego masing - masing sukunya masih tinggi ini. 




Tapi apa jadinya ya kalo negeri ini kalo pemimpinnya seperti saya? Hahaha.. (Insyaallah) bakalan lebih hebat daripada sekarang. Amin ya Rabb.. Bukan motivasi saya untuk mencari uang dari jabatan ini. Apalah artinya uang buat saya jika tidak bisa bermanfaat untuk orang lain. Dengan berprinsip seperti itu maka secara otomatis rakyat adalah prioritas saya diatas apapun. Bahkan 90% gaji saya disumbangkan untuk rakyat pun saya tidak ada masalah. Ahmadinejad (mantan presiden Iran) saja bisa kok hidup sederhana menjadi seorang presiden. FYI, beliau ini hampir 100% gajinya disumbangin buat rakyatnya loh, keren kan? Nabi Muhammad SAW aja, walopun jadi pemimpin umatnya gak pernah dapet gaji. Beliau malah berdagang loh. Jadi buat saya, mau saya sebagai presiden itu ntar digaji atau tidak gak ada masalah. Yang penting rakyat sejahtera, negara aman dan maju. Ciyee, khas tukang orasi nih.


"Jangan tanyakan apa yang bisa negara lakukan untukmu. Tapi tanyakan apa yang sudah kamu lakukan untuk negara" John F. Kennedy

Memulai langkah menjadi presiden tidaklah mudah, harus dipersiapkan matang - matang strateginya untuk meningkatkan elektabilitas dan kapabilitas seseorang untuk menjadi presiden. Seperti strategi marketing, bahwasannya branding and building image itu sangatlah perlu. Apa gunanya sebuah produk jika tidak ditunjang dengan strategi matang untuk membentuk branding and building image tersebut. Membangun image? Itukan pencitraan, ya memang. Politik pencitraan itu perlu, dengan syarat langkahnya yang bener. Jangan apa - apa ditempeli stiker wajah kita, poster dipajang dipohon - pohon, bendera ada dimana - mana. Itu malah merusak citra menurut saya. Beberapa langkah yang saya ambil untuk dijadikan proses ketika saya mau jadi presiden adalah:


1. Membentuk Tim

Nah, ini penting sebagai langkah awal. Let's say, ketika kita punya dukungan yang kuat dari orang - orang yang paham dan sejalan dengan visi misi saya sebagi calon presiden. Maka itu akan mudah. Apalagi jika tim saya dibangun oleh orang - orang yang paham dunia komunikasi politik, marketing, sosial budaya dan pendidikan. Maka aspek - aspek untuk meningkatkan kapabilitas saya akan terpenuhi. Seringnya bertemu dengan orang - orang yang bisa sharing ilmu dan bertukar ilmu juga setidaknya akan mempengaruhi seseorang untuk menjadi lebih baik lagi dalam berpolitik.

2. Bertoleransi Dengan Waktu

Ketika Pak Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta dan sekarang (mungkin) dipersiapkan menjadi seorang calon presiden. Entah itu jadi atau tidak nantinya. Tapi menurut saya, beliau dan timnya bener - bener mempersiapkan secara matang langkah - langkah beliau sedari awal. Mesin politik yang jeli melihat sosok inilah yang bekerja keras mempersiapkan beliau mulai dari menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta hingga nantinya (mungkin) akan menjadi presiden Indonesia. Betapa panjang proses yang dilewati beliau ini. Ya ini lah konsekuensinya, seseorang pemimpin jika mau memimpin sesutau yang besar menurut saya harusnya mempersiapkan dirinya secara matang dengan jangka waktu yang lama. Tidak bisa dengan langkah instan, sekali menjentikkan jari oh ya langsung bisa jadi presiden. Tidak bisa seperti itu. 

3. Memahami Masalah

Apa yang dilakukan sebagian besar orang - orang yang nyaleg atau nyapres saat ini adalah buah dari sebuah role model yang bernama BLUSUKAN. Semuanya seolah latah dengan fenomena ini. Hal yang perlu ditarik menjadi benang merah dari itu semua adalah, bahwasannya mereka sadar politik itu sebenernya rakyat yang berkuasa. Hal yang selama ini mereka sampingkan dari strategi "pemasaran" mereka. Ketika seseorang blusukan, menyelesaikan masalah dari bawah maka dengan sendirinya mereka sudah melakukan tahap branding and building image. Masyarakat pun akan familiar dengan sosok yang sering mereka temui dilapangan dan keseharian mereka. Banyak yang memandang ini adalah politik pencitraan, ada maunya atau apapun itu. Helooooo, pelis jangan munafik jadi orang. Semua orang yang hendak maju nyaleg atau nyapres pasti butuh yang namanya penctraan. Itu salah satu strategi branding and building image. Hehehe.. Mau sukses emang ada aja halangannya, don't worry. Ketika menjumpai masalah dibawah, coba selesaikan dengan memanfaatkan koneksi. Misal nih ya, ketika ada suatu kelompok pemuda disebuah desa yang menjadi sumber masalah karena mereka pengangguran. Gandeng BLK untuk memberikan pelatihan kerja, bukankah dalam UUD 1945 sudah jelas dicantumkan Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Jadi jelas sudah bahwa pemerintah melalui BLK berkewajiban untuk memberikan pelatihan kerja agar mereka berkeahlian dan bisa membuka usaha sendiri. Modal? Oke masalah modal, gandeng perusahaan - perusahaan yang berada dalam jangkauan untuk memberikan program CSR bagi mereka berupa bantuan modal sebagai modal usaha. Nah selesai bukan? Tidak harus dengan bagi - bagi duit. Selami masalah, selesaikan dengan memanfaatkan koneksi (itu sebabnya networking itu begitu penting)

4. Kuasai Anak Muda

Inget gak kalo Soekarno pernah berkata (koreksi saya jika saya salah)"Berikan aku 100 orang tua maka akan kucabut gunung dari tempatnya. Berikan aku 1000 pemuda maka akan ku goncangkan dunia" Nah dari sini sudah jelas bukan bahwasannya pemuda itu faktor penting dalam politik. Ketika kita membaur bersama mereka, menemukan masalah dan menyelesaikan masalah bersama. Maka setidaknya hati mereka akan terintegrasi dengan kita. Pahami kemauan mereka dan saringlha, dengarkan pendapat mereka terhadap sosok pemimpin dan sebuah negara. Seungguhnya mereka adalah kekuatan terbesar kita sebagai seorang pemimpin. Pemikiran - pemikiran mereka yang out of the box inilah yang diperlukan untuk membangun negara Indonesia ini. Banyak anak muda potensial kita berada di luar negeri, menjadi "budak sukses" di negeri orang. FYI, salah satu anak muda itu ada yang kerja menjadi kepala bagian (apa gitu ya saya lupa) di Boeing (pabrik pembuat pesawat paling oke di dunia)

5. Kuasai Media

Yak dewasa ini media berperan penting banget bagi perpolitikan di dunia adalah media. Di Indonesia pun begitu. Bahkan ada cameo yang berbunyi " If You Want To Conquer The World, Conquer The Media" Itu sebabnya pak Win menggandeng pak HT, pak Surya Paloh mendirikan nasdem, pak ARB nyapres, pak Dahlan juga ikut konvensi. Pak Jokowi ini juga branding image-nya lewat media besar sekali loh. "Ngiklan Gratis" dengan metode blusukannya sangat ampuh menanamkan namanya di otak manusia Indonesia.

Nah itu strateginya, kalo saya mau nyapres. Eh tapi kok saya blak - blakan ya? Aduh, nanti ada kompetitor yang liat gimana? Aduh saya ngomongnya kebanyakan. Hahaha.. Gapapa deh, biar ilmu saya bermanfaat. At least kalo saya gak jadi tukang sampah yang jadi presiden saya jadi tukang sampah yang menghuni surga aja deh. hehehe...




#TematicJB

Tempat Sampah, 2 Februari 2014


Ttd
Tukang Sampah

30 komentar:

  1. Kuasai media ntar malah jadi politik pencitraan bro :)

    Nice,baca juga postingan aku tentang andai jadi presiden juga ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Politik pencitraan itu perlu brader. kalo gak politik pencitraan gimana elektabilitas seorang capres bisa naik? politik pencitraan itu strategi branding yang bagus. asal caranya bener, gak numpang sana, numpang sini. kerja nyata itu yang bener. kalo orang lain berpendapat tetep aja itu sebagai pencitraan, yaaaa itu emang orangnya aja yang dangkal secara pemikiran atau merasa sok jago? hehehe... God knows.

      Hapus
    2. jawaban nya dewasa banget bro :)

      Hapus
    3. hiihi... masih belajar kok brader :)

      Hapus
  2. yang kuasai pemuda itu, harus diutamakan ke pemuda yg jomblo itu menurutku. kok keren nih strateginya, jadi takut kalah saing. Nyapres juga nih akuh, wkwkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh, kalo kebanyakan jomblo ntar jadinya galau :)

      Hapus
  3. Kuasai anak muda itu bener banget broh. Apalagi kalo udah bias ngajak jalan bareng :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. nahloh, ngajak jalan bareng yang begimane dulu nih komandan? hehehe

      Hapus
    2. Err.. maksudnya bukan yang begitu.

      Hapus
    3. Wihi ganti header nih. Lucu, tapi kayaknya warnanya agak keramean ya. ^^

      Hapus
    4. wah iya ya? hahaha... nanti diganti lagi deh headernya :) makasih advice-nya ya :)

      Hapus
  4. Waduuh nambah lagi nih saingannya Wiranto-HT,,, Berat nih kayaknya -strateginya sama- hehehe :pis ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. strategi boleh sama, tapi pelaksanaan belom tentu sama kan brader? Watch out! yihaaa....

      Hapus
  5. Strategi kayak gini tuh yang harus dilirik sama capres. Biar mereka bisa jadi presiden kelak dan dapet ide buat membangun negeri ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... sukur deh kalo ada yang ngelirik lan :)

      Hapus
  6. selama yg capres niatnya membenahi negeri, memberantas KKN, silahkan kuasai media. dan selama media itu mampu berperan netral jg dalam memberitakan informasi.. itulah rawannya kalau media dikuasai partai. kerap tidak berimbang menyampaikan berita terutama soal politik .. (just my opinion)

    but, ini keren sih. aplikatif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul pak dokter pengusaha :) setuju...

      Hapus
  7. kalo jadi presiden, gue booking posisi menteri pemberdayaan perempuan ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... rasa2nya gak mungkin saya nyapres :p

      Hapus
  8. Moga tercapai keinginanmu menjadi presiden kelak,Nak? haha...

    BalasHapus
  9. mantap strategi nya gan . . . :D :D :D
    salut salut salut . . . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap, makasih... masih belajar ini :)

      Hapus
  10. Kuasain media tapi jagan kayak capres yang punya TV merah sama biru itu ~ XD

    BalasHapus
  11. kuasai anak muda, karena anak muda itu produktif.
    setauku quote-nya Ir. Soekarno itu 100 orang tua dan 10 anak muda. setauku yaaa ;))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah Ya!!! bener banget.... maaf, maaf. terima kasih koreksinya. :)

      Hapus
  12. ini mah sama kayak strateginya WIN-HT yang sekarang malah maksain terus tampil di tv (media). Eiitss, jadi apakah Azis Cahyono ini adalah saingan terbesar mereka? Lalu bagaimana dengan Jokowi, Anis Baswedan, Jusuf Kalla dan Prabowo? hehe -selingan aja, lama tak bersua-

    BalasHapus